Sumbu Politik Senayan

PANSUS Hak Angket Bank Century baru mulai bekerja, tapi pertikaian politik elit sudah memuncak. Isu perpecahan kabinet sudah terdengar antara kelompok menteri yang pro dan anti Sri Mulyani.

Wawancara Sri Mulyani dengan media asing, The Wall Street Journal, memperuncing isu skandal Bank Century ini menjadi persaingan politik personal antara dia dan Aburizal Bakrie.

Tentu isu itu masuk akal secara politik karena persaingan itu sudah lama terjadi dan luas diketahui publik, terutama menyangkut kebijakan Menkeu yang ‘kritis’ terhadap bisnis Bakrie. Karena itu dalam posisinya sebagai Ketua Umum Golkar, masuk akal juga bila Aburizal Bakrie dianggap publik sebagai ‘sedang membidik’ Sri Mulyani.

Perkara inilah yang sesungguhnya menjadi burning issue politik SBY saat ini. Karena itu, yang menarik untuk diamati adalah posisi presiden dalam menangani isu ini. Artinya, dalam tingkat ketegangan politik itu, kinerja kabinet pasti akan sangat dikondisikan oleh suasana ketegangan politik Angket Century

Memang para jurubicara presiden berupaya ‘memoderatkan’ suasana politik kabinet. Tetapi perkembangan isu ini semakin memperlihatkan soal sesungguhnya: momentum penyelidikan DPR melalui Pansus Hak Angket Bank Century ini akan menjadi pintu masuk bagi peruncingan konflik dalam kabinet. Betapa tidak. Suasana politik DPR pada dasarnya sama dengan suasana kabinet, karena komposisi politik DPR adalah juga komposisi politik Kabinet. Itu berarti, sumbu politik yang disulut di Senayan, juga akan menyebabkan kebakaran di Merdeka Utara.

Jadi, kendati arah penyelidikan Pansus adalah pada policy Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur BI (Boediono, ketika itu) dalam mengeluarkan keputusan ‘penyelamatan’ Bank Century, namun materi ‘politik’ kasus inilah yang sesungguhnya menjadi perhatian publik. Itu berarti presiden dan kabinet sedang mengalami ketegangan karena sejumlah implikasi politik dari temuan Pansus akan dihadapkan dengan ‘rasa keadilan publik’ yang selama ini cenderung melihat kasus Bank Century ini sebagai ‘perampokan’ uang rakyat.

Secara profesional kita mungkin dapat melokalisir kasus Bank Century ini sebagai kasus ‘mismanajemen’, atau bahkan sebagai akibat dari buruknya pengawasan BI. Tapi kepentingan politik elit telah mendahului proses penyelidikan profesional itu karena sejak awal ‘kasus’ ini sudah terkait isu politik ‘cicak vs buaya’, dan kini ‘Ical vs Sri Mulyani’.

Kita dapat menghitung lebih jauh: apakah posisi Sri Mulyani merupakan sekadar pertaruhan politik personal elit, atau di dalam pertarungan itu ada perhitungan politik lebih taktis dari presiden? Secara lebih kongkrit: siapa yang lebih strategis diperlukan dalam rangka politik SBY pribadi, Aburizal Bakrie (dan Golkar) atau Sri Mulyani (dan Teknokrat)? Kita tentu dapat menambahkan analisa itu dengan menghitung faktor internasional yang dianggap berpihak pada Sri Mulyani.

Tetapi sekali lagi masalahnya adalah: dalam jangka pendek, yaitu dalam masa penyelidikan Pansus beberapa bulan ke depan, kondisi kabinet akan lebih tersita oleh kalkulasi politik strategis ketimbang bekerja untuk mengatasi soal-soal ekonomi rakyat.

Pesimisme bahwa Pansus Century akan redup di tengah jalan, juga menjadi bagian dari psikologi strategis politik SBY. Artinya, kendati niat penegakan hukum terus diucapkan secara retoris oleh presiden, tetapi keperluan konsolidasi kekuasaan presiden lima tahun ke depan pasti merupakan pertimbangan personal tertinggi SBY.

Karena itu, terhadap kerja Pansus Hak Angket Bank Century, sangatlah sah bila di dalamnya kita masukkan juga prediksi terhadap akibatnya bagi politik personal SBY. Dengan cara itu kita dapat mengukur ‘panas politik’ maksimal yang dapat tiba di Istana akibat sumbu yang dibakar di Senayan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: